proses

gimana sih cara buat Sasirangan….??

Kain sasirangan banyak dibuat oleh pengusaha industri kecil di Kalimantan Selatan. Seperti halnya batik di Pulau jawa, kain sasirangan merupakan ciri khas daerah Kalimantan Selatan. Kain sasirangan adalah merupakan kain yang menerapkan proses pewarnaan dengan cara rintang yaitu dijahit menggunakan benang atau tali rafia menurut corak yang dikehendaki. Desain corak didapatkan dari jahitan atau dikombinasi dengan ikatan maupun komposisi warna yang dibuat. Kain sasirangan dapat dibuat dari bahan mori dengan berbagai kwalitas seperti mori primissima, mori prima, mori biru, mori voalissima, bahan sutera, rayon maupun synthetic.

1. Proses Awal / Persiapan (Penghilangan Kanji)Dalam perdagangan biasanya kain dijual dalam keadaan telah difinish atau dikanji, dimana kanji tersebut dapat menghalangi penyerapan zat warna. Oleh karena itu kain harus diproses persiapan / penghilangan kanji agar kain mempunyai daya serap terhadap zat warna.

Untuk menghilangkan kanji dapat dilakukan dengan 3 cara :

  • Perendaman biasa, bahan direndam dalam air selama satu atau dua hari, kemudian dibilas. Cara ini banyak memakan waktu dan ada kemungkinan timbul mikro organisme yang akan merusak kain.
  • Perendaman dengan asam, kain direndam dalam larutan asam sulfat atau asam chlorida selama satu malam. Apabila larutan dipanaskan pada suhu 35′ C maka waktu pengerjaan dapat disingkat hingga menjadi 2 jam saja. Setelah proses maka kain dibilas dengan air sehingga bebas dari asam.
  • Rendaman dengan enzym, bahan dimasak dengan suatu larutan enzym (Rapidase, Novofermasol dan lain-lain) pada suhu 45′ C selama 30 s/d 45 menit. Setelah pemasakan kain dicuci dalam air panas dua kali masing-masing 5 menit, kemudian dicuci dingin sampai bersih.


2. Pembuatan Pola Desain dan Jahitan
.

Kain yang sudah bebas dari resin finish atau kanji maka siap dipotong guna diberi pola. Selanjutnya kain dijahit menggunakan benang sesuai pola dengan jarak 1 – 2 mm atau 2 -3 mm. Benang ditarik kencang sampai kain menjadi rapat dan membentuk kerutan-kerutan.

Benang berfungsi sebagai perintang oleh sebab itu bahan perintang mempunyai persyaratan-persyaratan sebagai berikut :

Tidak dapat terwarnai oleh zat warna, sehingga mampu untuk mewarnai zat warna.

Benang mempunyai konstruksi anyaman maupun twist benang yang padat.

Mempunyai kekuatan tarik yang tinggi.

Sebagai bahan perintang/pengikat dapat berupa : benang kapas, benang polyester, rafia, benang ban, serat nanas dan lainnya.

Pola atau motif yang dipakai pada kain sasirangan antara lain : kembang tampuk manggis, iris pudak, naga balimbur, bayam raja, kulit kayu, kulit kurikit, sarigading dan lain-lain.

3. Pewarnaan pada Kain

Pewarnaan adalah pemberian warna yang merata pada suatu bahan yang mempunyai sifat kurang lebih permanent. Pada umumnya pewarnaan terdiri dari melarutkan atau mendispersikan zat warna dalam air atau medium lain kemudian bahan tekstil dimasukkan atau dicolet dengan larutan tersebut sehingga terjadi penyerapan zat warna kedalam serat.

Saat pewarnaan, kerataan warna diutamakan agar menhasilkan produk yang bagus artinya terdapat kerataan yang maksimum dalam pembagian zat warna pada bahan. Pemakaian zat warna disesuaikan dengan jenis serat serta ketahanan luntur yang diinginkan serta mempunyai cara pewarnaan yang berbeda.

Proses pewarnaan kain sasirangan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

Pencelupan = menghasilkan hanya satu warna saja, caranya kain dicelup kedalam larutan zat warna dan obat-obat pembantu, sehingga akan dihasilkan kain berwarna yang merata kecuali pada bekas jahitan/sirangan akan tetap berwarna putih.

Pencoletan = menghasilkan banyak warna bisa lebih dari satu atau dua warna tergantung dari motif dan macam warna yang diinginkan. Caranya warna dicoletkan pada kain yang telah disirang (dicolet di atas sirangannya maupun diantara sirangan).

Pencelupan dan Pencoletan = menghasilkan warna yang variatif. Cara ini mula-mula kain dicelup warna muda sebagai dasar warna. Kemudian dicolet dengan warna yang lebih tua.
Syarat-syarat zat warna antara lain :

– Harus mempunyai warna, jadi mengabsorpi cahaya tampak.
– Dapat larut dalam pelarut, umumnya air atau mudah dilarutkan.
– Zat warna harus mempunyai affinitas terhadap serat (dapat menempel).
– Mempunyai sifat yang cukup baik seperti : tahan cuci, tahan sinar.
– Zat warna harus dapat berdifusi pada serat.
– Zat warna harus mempunyai susunan yang stabil setelah meresap ke dalam serat.

4.  Pelepasan Jahitan, Pencucian dan Pengeringan

Setelah proses pewarnaan kain sasirangan, kemudian jahitan jelujur pada kain di lepas. Setelah itu  kain dicuci sampai bersih.  kain yang sudah dicuci kemudian di jemur pada tempat yang sudah disediakan dengan syarat tidak boleh terkena sinar matahari.

5. Finishing

Proses terakhir yaitu proses penyempurnaan berupa merapikan kain agar tidak kumal yaitu dengan menyetrikanya. Penyetrikaan dilakukan secara manual dengan menggunakan setrika listrik. Kegiatan ini dilakukan secara hati-hati apalagi kalau bahan yang disetrika terbuat dari kain sutera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: